Wednesday, January 14, 2015

January 2015

"2015 is time to have a long discussion with Allah"
Berat amat yak? Hehehe....
Allow me to share how I take this as my only agenda this year...It's simple, really...

Awalnya bingung kenapa tidak ada agenda apapun di tahun 2015? I don't even have any target!!! Asli blank!!! Padahal dulu selalu ada mimpi-mimpi untuk keluargaku. Padahal dulu rasanya ga ada habisnya target di tempat kerja.  What happened?!!It's not me at all!!! Who is this person?!!! Panic!!!

Tapi setelah dipikir-pikir ada beberapa fakta yang lead me to say to myself "Hey...All is okay..."

Fact #1 : Transition
Well, indeed I'am in transition of my life. Career woman turned into Self employed woman hihihi, alias i do what i wanna do. It's just, I don't know what wanna do yet. Selama 10 tahun kerja, the job is already there, mau tidak mau harus ikut menggelinding dengan semua sistem. Now, I have to MAKE THE JOB.
It's A NEW THING and I don't know how to do it....It's understandable...It's Okay...

Fact #2 : Sudden change
I changed my path quite in an abrupt and in a sudden manner. Sesuatu membuat urgent untuk keputusan itu diambil. Jadi memang belum sempat punya design or rencana.
It's A NEW SITUATION and I don't know what to do...It's understandable...It's Okay...

Fact #3 : Life cuts you into pieces
Unfortunately it happens. Tiba-tiba suatu hari, universe yang sangat nyaman dan familiar jadi tempat yang asing and cuts you into pieces. I have to build my life from scratch again.
It's A NEW LIFE and I don't know what to do...It's understandable...It's Okay....

Jadi kesimpulannya.....All is understandable...All is okay...Voila!!! 

Ga perlu panik kalau memang belum punya target apapun di tahun ini...
Kalau ternyata kita sedang diam di satu tempat satu waktu di hidup kita, itu artinya kita memang sedang butuh untuk diam. In my case, Having New Path, New Hope is not enough to get my life instantly moving. Saya berarti memang butuh untuk diam dulu and there's no need to deny that condition. Maybe, God push a STOP button in my life, to make me come to him more than ever before and really....that's a true blessing. I just accept it dan waktunya untuk ngobrol lebih banyak dengan-Nya. Wow, It feels pretty amazing realizing that.

That's how I conclude that "2015 is time to have a long discussion with Allah", like I said in the begining of my post. Cheers.....


Thursday, December 4, 2014

New Path New Hope

I love my career, I love my workplace, I love my colleagues, I admired my bosses.....
I love the best feeling when accomplishing assignments and the celebrations....
I love sharing and passing on values to my juniors, knowing I contributed nurturing the seeds for future....
I said goodbye to all of that on 1st October 2014...It is bittersweet leaving all of those happy memories...


Tapi sebenarnya sampai ke keputusan untuk leaving my career adalah process of a thousand lessons. Allow me to revisit again...

AT THE BEGINING....
Sebelumnya, saya memang berencana berhenti bekerja untuk lebih fokus trying to have a baby.
Apalagi after failes IVF attempts, making me more determined more than ever before, to leave my high fast lane career yang stressfull banget. Untuk lebih santai body and mind, well people use to say it can help you to be more fertile and most of all for my inner peace (ala Po kungfu panda). Karena sekeras-kerasnya saya berteriak "I'm fine with the failed IVFs!!!!!", well I'm not. And it started to make an impact to my work, there are bad days when I can even get my mind to focus on my notebook. Jadi, mentally I do need a break to find my balance inner peace.

THE FINAL PHASE...
Recently, I've looked around, paying attention outside my inner turmoil fighting to have a baby.
Shifting my attention to my little family...
Semakin saya perhatikan, semakin nyata my flaws. Some of the examples that I've never been proud of:
- Selalu berdoa dengan khusyu asking for miracle baby, tapi berdoa seadanya for imamku (Wrong #1)
- Selalu berdoa untuk hati yang tenang, tapi min. effort utk membuat rumah yang hangat (Wrong #2)
I learn that...I'm not making the most of what I have now...Not living in the present...
Terlalu fokus pada sesuatu yang even belum ada in my world...

I began to pray more for my imam. Doa panjang yang saya rangkai dengan hati. Saya ingat waktu merangkai doa, ternyata tidak semudah itu. Merangkai doa untuk memohon yang kita inginkan, itu lebih mudah. Tapi untuk memohon sesuatu yang kita inginkan UNTUK ORANG LAIN....itu sulit.
Apa yang kita inginkan, belum tentu yang mereka inginkan, right? But hey, tidak ada cara yang paling initimate in loving someone selain mengirim doa untuk mereka. It's a secret divine way.

I began trying to build a warm home to come home to. I learned that, tidak ada yang bisa menggantikan a woman's touch in a family. The scent, presence, aura, heart & love of a woman through :
- home-made meal hot and always welcoming during breakfast & dinners
- home-made juices and cold refreshment drinks ready in the fringe to soothe the thirst
- carefully selected method of washing the clothes so they are soft & fragrant ready to caress the skin
- green garden to soothe tired eyes, flowers in the corners of rooms to colored the rooms
- Well maintained, cozy home giving warm feeling to come home to
- And availability of yourself, hands to massage the ones you love to loosen their strained neck, your 100% attention of how their days going and how you can help them prepare what they need for the next day.

I can not do all of those things while I'm working 8-5 for one of the top car manufacturer in the world.
Plus crazy traffic in jakarta is really not helping. Berangkat 5.30 AM dan sampe rumah lagi  9 PM.
For me, it's impossible. Ibarat pesawat, saya cuma punya mesin baling2 bambu, bukan jumbo jet, jadi sampe rumah sudah tinggal landing. I trully admired for all super woman out there who can jugling all of that. Tapi its time for me to admit, I'm not one of them. I have to choose. As a summary of my assessment to my little family Its not good at all...I failed...I missed a lot...I lost a lot...I paid a high price, but earned my valuable lesson...

Akhirnya mantap resign dari tempat kerja. Bukan karena orang bilang begini begitu dan lain lain. Tapi karena saya berproses, saya sadar that my scenario of life is not like general people scenario so i need to do things differently. Dan karena i need to do things differently i need more energy for myself to keep me going, sane and balance (whoosah, inner peace lagi ala Po kungfu panda, love that movie..)

So, what is the story of my life now? really its just
- Finding more flexible job (let me share it later, its quite interesting the things i found)
- 100% shifting my focus to my little family and learning to resonate the love in my heart
New path new hope...


Tuesday, October 14, 2014

2nd attempt with frozen embryo

Sudah lama tidak menulis...Well let's start now...After failing at the 1st attempt, kita masih punya harapan karena pada saat itu ada 2 embryo kualitas A dan 2 kualitas B yang dibekukan. Setelah menunggu sekitar 2-3 bulan, akhirnya kami mencoba lagi. Ternyata ada new facts yang kami temukan.

Pada saat proses thawing atau mungkin gampangnya de-frosting, bisa jadi kualitas embryo menurun bisa jadi bahkan akhirnya tidak selamat dari proses thawing tersebut, dalam kasus saya, kualitasnya menurun menjadi grade B. Waktu dijelaskan itu, saya sudah berganti baju persiapan untuk embryo transfer (karena kalau dg frozen embryo hanya step itu yang kita lakukan, tidak full IVF cycle). Saya hanya menatap layar komputer di ruang dingin itu dengan kecewa tapi at least happy. 1) Happy, coz I got the chance to see my little miracles for the last time, 2) Happy, at least i can manage my expectation for this cycle. Seperti rasanya sudah siap2 bawa jas hujan begitulah kata pepatah. Jadi lebih legowo....

Penantian 2 minggu waktu itu, tidak se-ekstrem sebelumnya. Saya beraktivitas sehari-hari di rumah seperti biasa, saya tetap mengambil cuti panjang dari kantor. Dan saya lebih pasrah karena telah mengetahui kondisi dan probabilitynya. Pada saat cek darah, memang hasilnya negatif. Saya ingat waktu itu, on the way home, saya katakan ke suami, bahwa kali ini lebih mudah diterima karena kondisinya telah kita ketahui sebelumnya. Saya merasa bersyukur untuk itu. Saya hanya menanyakan ke dokter, apabila kita mau mencoba lagi apa yang bisa kita perbaiki dari proses IVF nya.

Tapi bukan berarti tidak ada yang sukses dengan frozen embryo, banyak yang berhasil. Saya menuliskan pengalaman ini hanya untuk berbagi my experience. So keep possitive friends..

So, what's next for me???
Sekarang saya sedang introspeksi diri, memperbaiki diri dan mengevaluasi diri. Sometimes, Allah tidak mengabulkan doa kita, karena Dia maha tahu apa yang terbaik untuk kita umatnya. And that is exactly what happens to me. He protects me and my family, by showing me that I'm actually not ready yet to hold our miracles of life. I'm still full of flaws and need to learn more on how being a good wife and Insya Allah being a good future mom (Amiin). So, we are now halting the IVF journey.

From here, I will change the course of this blog. Not quite sure yet, but maybe I will be more focus on sharing stories of my journey trying to be.....Just a better version of me in Allah's blessing...Bismillah, let the journey begin...

Sunday, September 28, 2014

Will write soon

Sudah lama tidak menulis. Not even the 2nd cycle of my ivf. And many lemons happends. Im trying to make it into lemonade (very hard).Mungkin nanti harus ganti nama blog. Let me see...

Monday, May 13, 2013

Bayi Tabung: 1st cycle

I hope, one day….My precious son or daughter, will have the opportunity to read this story. And feel nothing than our ultimate love for them.

15 February 2013

Pada tanggal itu, it was 5 days after I get negative result dari program bayi tabung yang saya jalani. Semuanya dimulai pada tanggal 14 Januari. Saya datang ke dokter dan menjalani pemeriksaan pertama untuk melihat berapa folikel yang berpotensi untuk berkembang. Setelah itu, saya mulai mendapatkan stimulasi lewat suntikan. Suntikan itu bertujuan untuk memperbanyak produksi sel telur yang berkualitas baik. Setiap 3 hari, saya harus bertemu dengan dokter, untuk memonitor perkembanga sel telur melalui USG, dan juga memonitor level hormon dengan cek darah.

Proses stimulasi itu ternyata lebih berat dari yang saya kira. Karena harus dilakukan di waktu dan dosisi tertentu. Sebenarnya suntikan boleh dilakukan sendiri, tetapi daripada salah, saya memilih untuk datang ke klinik dekat rumah dan meminta bantuan dokter praktek untuk menyuntikan obat tersebut. Saya merasa lelah dan mengantuk terus pada periode ini.

Pada tanggal 23 Januari, dokter melihat sel telur sudah berkembang cukup baik, sehingga obat suntik untuk menstimulasi ovulasi diberikan. 2 hari berikutnya saya dijadwalkan untuk melakukan prosedur ovum pick up, prosedur dimana sel telur saya diambil. I feel really happy. Mungkin saya merasa akhirnya saya melakukan usaha yang maksimal dari segi medis untuk menghadirkan buah hati ke dunia ini. Its quite a big step of dari bayi tabung.

Pada hari besar itu, saya berpuasa. Malam sebelumnya kami bermalam di hotel dekat klinik yasmin, karena kami harus berada di klinik pukul 7 pagi (dengan kondisi traffic jakarta its the best option). Prosedurnya sendiri mungkin sekitar 30-45 menit dalam kondisi terbius. Ini adalah pengalaman pertama saya dibius. Pada saat saya sadar, saya kira prosedurnya belum dilaksanakan padahal sudah selesai. Saya sama sekali tidak ingat kapan saya tertidur hihihihihi (very cool procedure). Hari itu sel telur yang diambil berjumlah 15 sel telur. Itu termasuk banyak. We are very happy, karena berarti semakin banyak probability kami akan mendapatkan embrio yang bisa ditransfer. Namun, saya sedikit was-was, karena dari referensi yang saya baca, saya beresiko mengalami sindrom hiperstimulasi (OHSS). Kira-kira itu adalah sakit yang diakibatkan ovarium kita terlalu terstimulasi memproduksi sel telur. Tapi saya tidak terlalu memikirkannya. Sel telur - sel telur tersebut akan segera dipertemukan dengan sel sperma dan akan berkembang menjadi embrio, dan pada saat yang tepat klinik akan menghubungi kami untuk proses transfer embrio.

Kira-kira 2 hari setelahnya, kami mendapatkan berita bahwa pada hari senin transfer embrio bisa dilaksanakan. We were so excited. Hari minggu, I was feeling okay, hanya sedikit kembung dan perut sedikit membesar. Saya tidur siang, tetapi pada saat terbangun saya merasakan sakit seperti ditusuk tusuk di sekitar punggung bagian kiri. Semakin sore, semakin memburuk. Mual dan muntah mengiringi karena sakitnya sangat tidak tertahankan. Akhirnya kami memutuskan untuk ke UGD klinik kami, sekitar jam 8 malam saya masuk UGD. Infus dan obat penghilang rasa sakit diberikan untuk saya. Kami memutuskan untuk bermalam saja di rumah sakit. Kekhawatiran akan kemungkinan pembatalan transfer embrio di hari senin membayangi kami malam itu.

Hari Senin pagi, dokter datang dan memeriksa saya lewat USG dan kekahawatiran saya di awal benar, saya terkena OHSS, untungnya masih termasuk mild-moderate level. Dokter menanyakan ingin tetap melaksanakn embrio transfer atau ditunda. Saya bertanya apa pro dan cons nya melakukan embrio transfer dengan kasus OHSS seperti saya. Dokter berkata, Cons-nya, kalau kehamilan terjadi, sakitnya akan berlipat ganda dari sekarang, tetapi tidak life threthening. Pro nya, embrio nya fresh sehingga kemungkinan implantasi terjadi sangat tinggi. Karena tidak life threthening, saya pikir proceed saja. Kalau sakit bisa ditahan dan bisa diberi pengurang rasa sakit, its fine with me. Its already a battle anyway.

Sekitar 2.30 sore, dokter memperlihatkan ke kami our 7 beautiful embryos, calon buah hati kami. Saya kaget dengan emosi yang muncul, melihat calon bayi saya floating around dalam bentuk sel-sel berbentuk seperti bunga, saya berpikir "Sel itu dibuat dari sebagian diri saya. Sel itu hidup, mereka berkembang. Its not an 'IT', itu 'He or She', my little embryos". Saya merasa attachment pada saat itu juga. I love them dearly. Kami meminta 3 embrio untuk ditransfer, tetapi dokter prefer 2 saja untuk meminimalisir multiple pregnancy, karena faktor OHSS yang saya alami. Kamipun setuju.

Pada saat pelaksanaan prosedur tersebut, saya berbaring di meja operasi. Punggung kiri saya sakit sekali, saya berusaha untuk tidak membuat perut saya berkontraksi, tidak muntah dan bernafas normal. Saya bisa melakukan semua itu, tapi air mata keluar tanpa bisa dikontrol saking sakitnya. Saya coba mengalihkan perhatian saya melihat flat screen TV dimana terlihat 2 embrio saya disedot ke sebuah selang suntik, dan ahli embriologi menyerahkan selang suntik itu ke dokter. Dan dokter memasukkan 2 embrio itu ke dalam rahim saya, dan di monitor USG terlihat seperti 2 titik putih melayang di rahim saya. My embryos already inside me. Alhamdulillah. We stay another night at the hospital. And on Tuesday afternoon we can bring them home.

Dimulailah 2 minggu masa penantian untuk melihat apakah My embryos menempel di rahim saya atau tidak. Saya mengurangi kegiatan keluar rumah, sebanyak mungkin beristirahat, memakan makanan sehat dan  most important thing is I pray to Allah. Karena hanya dengan Kehendak-Nya lah mereka bisa berkembang di rahim saya atau tidak. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh manusia di tahap ini, Allahu Akbar. Sholat, berdzikir dan bahkan mengajak embrio-ku untuk berdzikir bersama. Semua makhluk-Nya pasti bisa mengucapkan Nama-Nya. Semoga embrio-ku berkembang dan semua sel yang membelah melantunkan Nama-Nya. Setiap hari, saya merasa, saya seperti memohon langsung pada-Nya. Seperti merasa mengangkat this little and weak hands langsung pada tangan-Nya yang maha perkasa, mohon ridha-Nya. Human is nothing. We are nothing. Saya merasa mengenal Allah dengan lebih baik dengan pengalaman ini. I love Him more than ever.

2 minggu berlalu, tetapi saya tidak merasakan apapun. Saya mulai browsing di internet mencari tanda-tanda fisik apa yang harusnya saya rasakan apabila implantasi terjadi. Saya mulai khawatir, karena saya tidak merasakan tanda-tanda apapun. Saya hanya bisa kembali ke Allah, dan berusaha berserah diri dengan segala kehendak-Nya.

 11 Februari 2013, 2 minggu setelah transfer embrio. Its time. Kita datang ke klinik, untuk cek darah berusaha mendeteksi apakah hormon kehamilan diproduksi, yang menjadi indikator kehamilan. Di ruang tunggu menunggu hasil, saya berusaha menenagkan hati dan pikiran dengan membaca yasin dan doa-doa. Ruangan tunggu dokter hari itu terasa lebih dingin dari biasanya, it must be my nerves. Suster memanggil dan memberikan hasil lab di amplop tertutup, meminta kita untuk menunggu di depan ruang dokter. Saya tidak membukanya, saya duduk di kursi paling ujung di depan ruang praktek dokter. Saya menarik nafas panjang dan membuka amplopnya......Saya melihat hasilnya....angkanya rendah yang artinya tidak terjadi kehamilan.....Saya tutup lagi amplopnya, dan meminum air putih dari botol aqua yang saya bawa, berharap itu akan menghilangkan rasa sakit di kerongkongan karena menahan tangis.

Dokter memberitahukan berita itu dengan suara pelan dan hati-hati. Kerongkongan saya semakin tercekat, dan saya meminum air dari botol aqua itu lagi, mencoba menghilangkan cekatan di kerongkongan itu (Aqua is my savior if i recall that day). Dokter mengatakan bahwa kemungkinan obat yang diberikan untuk mengatasi OHSS saya mengganggu proses implantasi. Dokter meminta kita untuk mencoba dengan embrio yang tersisa in the next 2-3 months. Saya tidak menanyakan apapun karena saya sibuk menahan air mata. Begitu keluar dari ruang dokter, air mata itu tumpah. I was mourning. I felt, I lost my embryos that could have been my baby. I lost a part of me..... 

Suamiku mencoba menghiburku, dengan membawaku ke spa, fancy restaurant, went to movies. I appreciate it. Tetapi setiap mata terpejam, air mata turun padahal saya tidak ingin menangis. Setiap sholat selalu menangis lagi. Mata seperti ikan koki berhari-hari. Saya kembali pada-Nya lagi. Saya yakin Dia menjawab doa saya, tapi saat ini saya tidak memahami jawaban-Nya untuk saya. Saya hanya berharap suatu saat nanti saya mengerti apa yang Dia katakan lewat ketetapan-Nya. Sampai dengan waktu itu tiba, yang bisa saya lakukan hanya melanjutkan hidup dengan segala yang ada.  

Menunggu 2-3 bulan untuk melalukan Frozen Embryo Transfer......

Wednesday, May 1, 2013

My first Post

Saya hanya ingin menuliskan pengalaman yang berarti bagi saya dan keluarga. Saat ini, pengalaman yang sedang saya jalani dan berada di depan mata saya adalah kenyataan bahwa saya harus menjalani bayi tabung, untuk menghadirkan buah hati yang saya dambakan selama 6 terakhir. Pengalaman ini saya rasakan penuh emosi yang bercampur aduk. Karena itu saya pikir, blog ini saya tulis untuk beberapa purpose:

1) For myself
Dengan banyaknya emosi yang campur aduk, muncul dan pergi, saya perlu mengurainya dan mereviewnya satu per satu. Melihat bagaimana saya harus memahami emosi ini dan membuatnya sebagai batu loncatan untuk menjadi "a better version of me". Karena saya tidak bisa berkeluh kesah atau bertanya apa yang sebaiknya harus dilakukan pada orang lain, its impossible, mereka tidak pernah menjalani bayi tabung. They don't understand. They are good family and friends, they just don't understand, they can't help you. Jadi yang bisa menolong saya adalah Allah Maha Besar dan saya sendiri.

2) For anyone who would want to read it.
Saya pikir, mungkin yang bisa memahami perjalanan bayi tabung ini hanya wanita-wanita yang menjalaninya. Kalau tulisan ini, happend to be dibaca oleh teman-teman seperjuangan, semoga bermanfaat. Karena saya tahu, bayi tabung bisa jadi pengalaman yang membuat kita merasa "sendiri". Semoga dengan membaca tulisan ini, teman-teman tidak merasa sendiri walking down this path.

Saat ini saya sudah menjalani 1 siklus bayi tabung. Dan hasilnya negatif. Tidak ada kata-kata yang bisa menceritakan rasanya seperti apa, saya sendiri tidak tahu bagaimana menggambarkannya. Sekarang sudah hampir 2 bulan berlalu. Dokter mengatakan kita bisa mulai bersiap untuk trial kedua dengan my frozen embryo yang ada. Semuanya sudah mulai tertata lagi. Kondisi fisik sudah mulai membaik. Kondisi mental emosional juga perlu disiapkan. Saya rasa menuliskan pengalaman pertama bayi tabung kemarin, will be a therapeutic writing for myself, dalam rangka memantapkan kesiapan mental. Saya coba tulis for my next post.

That's it for now. Will write again soon.